Sipil • Rumus dan Contoh Hitungan

Berat Jenis Baja dan Rumus Berat Besi per Meter

Berat jenis baja 7.850 kg/m³ dan asal angkanya, rumus berat besi per meter 0,006165 × d², perbandingan dengan tabel resmi, toleransi SNI, dan contoh balok.

Oleh Tim Redaksi Ruang TeknikTerbit Diperbarui Diperiksa terhadap sumber

Seikat batang baja tulangan sirip yang diikat kawat, tergeletak memanjang di atas kerikil lokasi proyek
Batang baja tulangan sirip (ulir) diikat kawat di lokasi proyek di Rixö, Lysekil, Swedia. Berat nominal batang tulangan dihitung dari massa jenis baja 7.850 kg/m³.Foto: W.carter / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
Ringkasan jawaban

Berat jenis baja yang dipakai dalam hitungan konstruksi di Indonesia adalah 7.850 kg/m³ (7,85 ton/m³), sesuai Tabel 1 PPPURG 1987 dan tabel berat isi Permen PUPR No. 8 Tahun 2023. Jadi 1 m³ baja beratnya 7.850 kg. Dari angka itu diturunkan rumus berat besi beton per meter W = 0,006165 × d² (W dalam kg/m, d dalam mm), yang hasilnya sama dengan tabel berat nominal SNI 2052.

Daftar isi

Berat jenis baja yang dipakai dalam hitungan konstruksi di Indonesia adalah 7.850 kg/m³, atau 7,85 ton per meter kubik. Angka ini tercantum sebagai berat sendiri baja pada Tabel 1 Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (PPPURG 1987, SKBI-1.3.53.1987) dan masih dipakai Kementerian PU, misalnya di tabel berat isi Permen PUPR No. 8 Tahun 2023. Dari satu angka itu bisa diturunkan rumus cepat berat besi beton per meter, W=0,006165×d2W = 0{,}006165 \times d^2, yang hasilnya sama dengan tabel berat nominal SNI 2052. Artikel ini menurunkan rumus tersebut langkah demi langkah supaya kamu bisa memeriksa tabel besi sendiri, lalu memakainya untuk menghitung kebutuhan besi satu balok.

Berat jenis baja 7.850 kg/m³ dan asal angkanya

Angka 7.850 kg/m³ punya sumber resmi yang bisa dicek. Tabel 1 PPPURG 1987, berjudul "Berat Sendiri Bahan Bangunan dan Komponen Gedung", mencantumkan baja 7.850 kg/m³, besi tuang 7.250 kg/m³, beton 2.200 kg/m³, dan beton bertulang 2.400 kg/m³. Pedoman ini adalah Lampiran No. 14 Keputusan Menteri PU No. 378/KPTS/1987.

Dokumen yang lebih baru memakai angka yang sama. Tabel B.2 Permen PUPR No. 8 Tahun 2023 (pedoman penyusunan perkiraan biaya), berjudul "Berat Isi Lepas Material dan Tingkat Kesulitan Pengangkutan secara Manual", mencatat "Baja Profil/Baja tulangan beton" dengan rentang berat isi 7,500 sampai 8,200 ton/m³ dan nilai acuan 7,850 ton/m³. Desain prototipe rumah sederhana dalam Kepmen PUPR No. 2947/KPTS/M/2024 juga menulis "berat jenis baja tulangan = 7850 kg/m³" pada data material strukturnya.

Rentang 7,5 sampai 8,2 ton/m³ itu penting dibaca. Tabel tersebut menaruh 7,850 sebagai nilai acuan di samping sebuah rentang, jadi 7.850 kg/m³ dipakai sebagai angka hitungan, bukan sifat pasti setiap batang. Untuk besi beton, penyimpangan berat batang yang masih diterima diatur tersendiri lewat toleransi berat SNI 2052 yang dibahas di bagian akhir.

Untuk perancangan beban gedung, BSN mencatat SNI 1727:2020 (Beban desain minimum dan kriteria terkait untuk bangunan gedung dan struktur lain) sebagai revisi dari SNI 1727:2013. Redaksi belum berhasil mengambil naskah tabel berat bahannya karena situs BSN tidak dapat diakses saat artikel ini disusun. Karena itu angka di artikel ini dikutip dari PPPURG 1987 dan dokumen Kementerian PU yang naskahnya sudah dicek.

1 m³ besi berapa kg?

Untuk baja, termasuk besi beton dan baja profil, 1 m³ beratnya 7.850 kg. Untuk besi tuang (besi cor), PPPURG 1987 memberi 7.250 kg/m³. Kebalikannya juga berguna di gudang: 1 ton baja hanya bervolume 1.000/7.850≈0,1271.000 / 7.850 \approx 0{,}127 m³. Tumpukan besi satu truk terlihat sedikit, padahal beratnya sudah besar.

Berat jenis atau massa jenis baja: kg/m³, kN/m³, atau tanpa satuan

Istilah "berat jenis" di Indonesia dipakai untuk tiga besaran yang berbeda. Ketiganya sering tertukar di soal kuliah dan di lembar hitungan.

Massa jenis (densitas) adalah massa per satuan volume. Buku teks fisika OpenStax menulisnya sebagai ρ=m/V\rho = m / V.

ρ=mV\rho = \frac{m}{V}

Keterangan: ρ\rho = massa jenis (kg/m³), mm = massa (kg), VV = volume (m³). Angka 7.850 kg/m³ secara ketat adalah massa jenis, walau di lapangan disebut berat jenis.

Berat per volume (berat satuan) adalah gaya berat per meter kubik. BIPM menegaskan bahwa berat adalah besaran gaya, yaitu massa dikali percepatan gravitasi, dan nilai gravitasi standarnya 9,806 65 m/s² (NIST SP 811).

γ=ρ×gn=7.850×9,806 65=76.982 N/m3≈77,0 kN/m3\begin{aligned}\gamma &= \rho \times g_n \\ &= 7.850 \times 9{,}806\,65 \\ &= 76.982\ \text{N/m}^3 \approx 77{,}0\ \text{kN/m}^3\end{aligned}

Keterangan: γ\gamma = berat per volume (N/m³), ρ\rho = massa jenis baja (kg/m³), gng_n = percepatan gravitasi standar (m/s²). Satuan kN/m³ inilah yang biasa diminta saat beban mati dimasukkan dalam satuan gaya.

Berat jenis menurut KBBI adalah perbandingan berat benda dengan berat air yang volumenya sama, jadi tanpa satuan. Contoh di KBBI: berat jenis marmer 2,8. Dengan massa jenis air sekitar 1.000 kg/m³, berat jenis baja dalam arti ini adalah 7,85.

Tabel 1: Berat jenis atau massa jenis baja: kg/m³, kN/m³, atau tanpa satuan
Massa jenisρ\rho7.850kg/m³
Massa jenisρ\rho7,85t/m³ atau g/cm³
Berat per volumeγ\gamma77,0kN/m³
Berat jenis (perbandingan terhadap air)-7,85tanpa satuan

Sumber: lihat bagian Sumber artikel.

Menurut redaksi, yang penting bukan memilih istilah yang "paling benar", melainkan selalu menulis satuannya. Angka 7,85 tanpa satuan bisa berarti t/m³ atau perbandingan terhadap air, dan keduanya sah. Kesalahan yang perlu dihindari adalah memasukkan 7.850 ke kolom yang meminta kN/m³, sehingga beban baja menjadi sekitar 100 kali terlalu besar.

Baja, besi tuang, dan aluminium: beda berat jenisnya

Kata "besi" pada besi beton, besi siku, atau besi hollow merujuk ke produk baja. Tabel acuan Kementerian PU pun memakai judul "Berat Besi/Baja Tulangan" untuk besi beton. Besi tuang dan aluminium adalah bahan lain dengan massa jenis yang berbeda, jadi rumus berat per meter di bawah tidak boleh dipakai begitu saja untuk keduanya.

Tumpukan pipa baja berpenampang persegi (besi hollow) yang disusun berlapis di samping bangunan di area proyek
Besi hollow yang dijual di toko bangunan adalah pipa baja, jadi beratnya dihitung dengan massa jenis 7.850 kg/m³ dikali luas penampang dindingnya. Foto: Shixart1985 / Wikimedia Commons, CC BY 2.0
Tabel 2: Baja, besi tuang, dan aluminium: beda berat jenisnya
Baja (besi beton, baja profil)7.850100%PPPURG 1987 Tabel 1; Permen PUPR 8/2023 Tabel B.2
Besi (iron, 0 °C)7.860100,1%OpenStax University Physics Tabel 14.1
Besi tuang7.25092,4%PPPURG 1987 Tabel 1
Aluminium2.70034,4%OpenStax University Physics Tabel 14.1
Beton bertulang (pembanding)2.40030,6%PPPURG 1987 Tabel 1

Sumber: lihat bagian Sumber artikel.

Diagram batang massa jenis baja 7.850, besi 7.860, besi tuang 7.250, aluminium 2.700, dan beton bertulang 2.400 kg/m³
Baja dan besi murni hampir sama berat, besi tuang sedikit lebih ringan, sedangkan aluminium dan beton bertulang hanya sekitar sepertiga baja. Kredit: Redaksi Ruang Teknik, diagram buatan sendiri

Dua hal menarik terlihat dari tabel ini. Pertama, besi tuang sekitar 7,6% lebih ringan dari baja, sehingga memakai 7.850 untuk tutup saluran atau benda cor besi tuang memberi berat yang sedikit berlebih. Kedua, aluminium hanya sekitar sepertiga baja. Batang aluminium pejal berdiameter sama beratnya 0,006165×(2.700/7.850)×d2≈0,002120×d20{,}006165 \times (2.700/7.850) \times d^2 \approx 0{,}002120 \times d^2 kg/m.

Berat jenis baja WF dan profil lain

Baja WF, kanal, siku, dan pelat memakai massa jenis yang sama, 7.850 kg/m³. Yang membedakan hanya bentuk penampangnya. Karena 1 cm² × 1 m = 100 cm³ = 0,0001 m³, berat per meter profil apa pun bisa dihitung dari luas penampang:

W=A×0,785W = A \times 0{,}785

Keterangan: WW = berat per meter (kg/m), AA = luas penampang (cm²), 0,785 = 7.850 kg/m³ × 0,0001 m² per cm².

Contoh: profil WF 150 × 75 × 5 × 7 di katalog produsen baja Indonesia punya luas penampang 17,85 cm² dan berat 14 kg/m. Hitungannya 17,85×0,785=14,0117{,}85 \times 0{,}785 = 14{,}01 kg/m, cocok dengan katalog. Ukuran lengkap ada di tabel baja WF 150. Cara yang sama berlaku untuk pelat: pelat baja tebal 1 mm beratnya 7,85 kg per m². Ini berguna saat memperkirakan berat profil baja ringan, meski lapisan pelindungnya menambah sedikit berat, atau berat baut dan mur sesuai ukurannya.

Penurunan rumus berat besi per meter: W = 0,006165 × d²

Besi beton dianggap silinder pejal dengan diameter nominal dd. Berat 1 meter batang adalah massa jenis dikali volume 1 meter batang itu. Penurunannya hanya empat langkah.

Diagram batang besi sepanjang 1 meter dengan diameter d dan potongan lingkarannya, beserta langkah penurunan rumus berat besi per meter
Penurunan rumus berat besi per meter dari massa jenis baja 7.850 kg/m³ Kredit: Redaksi Ruang Teknik / diagram buatan sendiri

Langkah 1, luas penampang.

A=π4d2A = \frac{\pi}{4} d^2

Keterangan: AA = luas penampang nominal (mm²), dd = diameter nominal (mm), π/4=0,7854\pi/4 = 0{,}7854.

Langkah 2, volume 1 meter batang. Luas diubah ke m² dengan faktor 10−610^{-6} (1 mm² = 10⁻⁶ m²), lalu dikali panjang 1 m.

V=π4d2×10−6×1V = \frac{\pi}{4} d^2 \times 10^{-6} \times 1

Keterangan: VV = volume per meter panjang (m³/m), dd = diameter nominal (mm).

Langkah 3, massa per meter.

W=ρ×V=7.850×π4×10−6×d2\begin{aligned}W &= \rho \times V \\ &= 7.850 \times \frac{\pi}{4} \times 10^{-6} \times d^2\end{aligned}

Keterangan: WW = berat per meter (kg/m), ρ\rho = 7.850 kg/m³.

Langkah 4, sederhanakan konstantanya. 7.850×0,785 398×10−6=0,006 1657.850 \times 0{,}785\,398 \times 10^{-6} = 0{,}006\,165, sehingga:

W=0,006165×d2W = 0{,}006165 \times d^2

Keterangan: WW dalam kg/m, dd dalam mm. Rumus ini sering ditulis W≈d2/162W \approx d^2/162 karena 1/0,006165≈162,21/0{,}006165 \approx 162{,}2. Bentuk d2/162d^2/162 memberi hasil sekitar 0,12% lebih besar, masih aman untuk perkiraan cepat.

Rumus resmi di tabel acuan Kementerian PU ternyata identik. Lampiran II SE Dirjen Bina Konstruksi No. 47/SE/Dk/2026 menulis berat nominal SNI 2052:2017 sebagai (0,785×0,7854×d2)/100(0{,}785 \times 0{,}7854 \times d^2)/100 kg/m. Angka 0,7854 adalah π/4\pi/4. Angka 0,785/100=0,007850{,}785/100 = 0{,}00785 adalah 7.850 kg/m³ yang sudah dikali 10−610^{-6}. Jadi tabel resmi itu memang diturunkan dari massa jenis 7.850 kg/m³.

Rumus dibandingkan dengan tabel resmi

Tabel berikut membandingkan hasil rumus untuk empat diameter dengan berat nominal pada Tabel A.5.a (polos, BjTP) dan A.5.b (sirip, BjTS) SNI 2052:2017 yang dikutip Lampiran II SE Dirjen Bina Konstruksi No. 47/SE/Dk/2026. Kolom penamaan menunjukkan ukuran mana yang memang tercantum di tabel resmi: P untuk polos, S untuk sirip.

Tabel 3: Rumus dibandingkan dengan tabel resmi
8P8, S8500,39460,3954,74
10P10, S10790,61650,6177,40
13S131331,04191,04212,50
16P16, S162011,57821,57818,94

Sumber: lihat bagian Sumber artikel.

Selisih rumus dan tabel resmi paling besar sekitar 0,1% (diameter 8 mm), murni karena pembulatan tiga desimal. Tabel lengkap diameter 6 sampai 32 mm, polos dan sirip, ada di tabel besi beton. Jadi kalau ada tabel lain yang angkanya berbeda jauh dari kolom ini, tabel itu yang perlu dicurigai. Contoh: angka 0,617 kg/m untuk diameter 10 mm berarti 1 ton besi 10 mm panjangnya sekitar 1.621 m atau 135 batang 12 m.

Perhatikan juga bahwa diameter 12 mm hanya ada di tabel polos dan 13 mm hanya di tabel sirip. "Besi ulir 12" yang dijual di pasar tidak tercantum di tabel SNI 2052:2017 yang dikutip, jadi beratnya tidak bisa dicocokkan dengan tabel resmi. Cara paling jujur adalah menimbangnya dan menghitung diameter ekuivalen dengan rumus di kotak catatan di atas. Data lengkap per diameter, termasuk ukuran sirip dan luas penampang hingga 32 mm, ada di tabel besi beton, termasuk besi 10 mm dan besi 13 mm.

Contoh hitungan kebutuhan besi satu balok

Contoh ini memakai data balok rekaan supaya langkahnya terlihat utuh. Angkanya bukan hasil desain struktur. Ukuran tulangan sebenarnya selalu mengikuti gambar kerja dari perencana.

Data contoh: balok 200 × 300 mm sepanjang 4,0 m, tulangan pokok 4 S13 (2 atas, 2 bawah) dengan panjang potong 4,30 m per batang (sudah termasuk penjangkaran di ujung), dan sengkang S10 berjarak 150 mm. Selimut beton 40 mm diambil dari SNI 2847:2019 Tabel 20.6.1.3.1 untuk balok yang tidak terpapar cuaca. Kait sengkang 135° memakai perpanjangan lurus terbesar dari 6db6d_b dan 75 mm (SNI 2847:2019 Tabel 25.3.2), jadi untuk S10 dipakai 75 mm.

Potongan balok 200 kali 300 mm dengan empat tulangan pokok S13, sengkang S10 berkait 135 derajat, dan selimut beton 40 mm
Potongan balok contoh untuk hitungan kebutuhan besi Kredit: Redaksi Ruang Teknik / diagram buatan sendiri

Contoh hitungan

Langkah 1: berat tulangan pokok 4 S13

  1. Panjang total = 4 batang × 4,30 m = 17,20 m

  2. Berat per meter S13 = 0,006165 × 13² = 1,042 kg/m (sama dengan tabel resmi)

  3. Berat tulangan pokok = 17,20 m × 1,042 kg/m = 17,92 kg

Contoh hitungan

Langkah 2: berat sengkang S10 jarak 150 mm

  1. Jumlah jarak = 4.000 mm / 150 mm = 26,7, dibulatkan ke atas menjadi 27 jarak

  2. Jumlah sengkang = 27 + 1 = 28 buah

  3. Ukuran luar sengkang = (200 − 2 × 40) × (300 − 2 × 40) = 120 mm × 220 mm

  4. Panjang satu sengkang ≈ 2 × (120 + 220) + 2 × 75 = 830 mm = 0,83 m

  5. Panjang total sengkang = 28 × 0,83 m = 23,24 m

  6. Berat sengkang = 23,24 m × 0,617 kg/m = 14,34 kg

Contoh hitungan

Langkah 3: total berat dan faktor susut AHSP

  1. Berat bersih tulangan = 17,92 kg + 14,34 kg = 32,26 kg

  2. Koefisien AHSP Permen PUPR 8/2023 untuk penulangan balok: 1,02 kg besi per 1 kg penulangan (U.4.6.a.3 untuk S10, U.4.6.a.4 untuk S13; koefisiennya sama)

  3. Kebutuhan menurut AHSP = 32,26 kg × 1,02 = 32,91 kg

Panjang sengkang di langkah 2 adalah pendekatan dari ukuran luar ditambah dua kait. Panjang potong final juga memperhitungkan lengkungan, dan itu urusan daftar potong besi (bar bending schedule) proyek.

Kenapa angka belanja lebih besar dari 32,91 kg

Besi dijual per batang 12 m, bukan per kilogram bersih. Satu batang S13 hanya menghasilkan dua potongan 4,30 m (sisa 3,40 m), jadi empat potongan butuh 2 batang. Satu batang S10 menghasilkan 14 sengkang 0,83 m, jadi 28 sengkang butuh 2 batang.

Contoh hitungan

Langkah 4: berat yang dibeli per batang 12 m

  1. S13: 2 batang × 12,50 kg = 25,00 kg

  2. S10: 2 batang × 7,40 kg = 14,80 kg

  3. Total dibeli = 25,00 kg + 14,80 kg = 39,80 kg

  4. Sisa potongan = 39,80 kg − 32,26 kg ≈ 7,5 kg, terutama dua sisa S13 sepanjang 3,40 m

Di sini perlu dibedakan dua hal. Koefisien 1,02 di AHSP adalah angka untuk menyusun harga satuan per kilogram pekerjaan, bukan daftar belanja untuk satu elemen. Pada contoh satu balok ini, sisa potongan hampir seperlima besi yang dibeli (7,5 dari 39,80 kg). Sisa itu bisa ditekan bila potongan dari banyak elemen digabung dalam satu daftar potong. Sebagai pembanding skala proyek, studi Nasautama dan Sitompul (2022) pada struktur kolom, balok, dan pelat sebuah pasar di Mandailing Natal mencatat sisa tulangan 10,92%. Untuk volume yang lebih besar, termasuk tulangan pondasi footplat dan beton menurut mutu beton yang dipakai, hitungan cepatnya bisa dicoba di kalkulator beton dan besi.

Toleransi berat besi beton menurut SNI 2052

Berat di tabel adalah berat nominal. Pabrik tidak bisa membuat batang yang persis sama beratnya, jadi SNI 2052:2017 memberi batas penyimpangan berat per batang untuk baja tulangan sirip (BjTS). Tabel berikut dikutip dari Tabel 2 Purwanto (2021) yang bersumber dari SNI 2052:2017.

Tabel 4: Toleransi berat besi beton menurut SNI 2052
6 sampai 8±7S8: 4,41 sampai 5,07
10 sampai 14±6S13: 11,75 sampai 13,25
16 sampai 29±5S16: 17,99 sampai 19,89

Sumber: lihat bagian Sumber artikel.

Rentang di kolom ketiga dihitung redaksi dari berat per batang resmi dikali (1 ± toleransi). Pemeriksaannya sederhana dan bisa dilakukan di lokasi dengan timbangan.

Contoh hitungan

Memeriksa satu batang "besi 10" sepanjang 12 m yang ditimbang 6,60 kg

  1. Berat per meter terukur = 6,60 kg / 12 m = 0,550 kg/m

  2. Diameter ekuivalen = √(0,550 / 0,006165) = √89,2 = 9,45 mm

  3. Penyimpangan berat terhadap S10 = (6,60 − 7,40) / 7,40 × 100% = −10,8%

  4. Batas toleransi diameter 10 mm = ±6%, jadi batang ini di luar toleransi SNI 2052:2017

Angka 6,60 kg di atas adalah contoh, bukan hasil uji produk tertentu. Polanya yang penting: batang yang jauh lebih ringan dari tabel berarti luas penampangnya lebih kecil, dan luas itulah yang dipakai perencana saat menghitung kekuatan tulangan.

Ringkasan cara memakai angka 7.850 kg/m³

Untuk hampir semua hitungan berat baja di proyek, cukup ingat tiga bentuk angka yang sama. Massa jenis 7.850 kg/m³ untuk volume apa pun. Faktor 0,785 untuk profil yang luas penampangnya diketahui dalam cm². Rumus 0,006165×d20{,}006165 \times d^2 untuk besi beton dengan diameter nominal dalam mm.

Ketiganya berasal dari satu angka, yaitu massa jenis baja 7.850 kg/m³ yang tercantum di PPPURG 1987 dan juga terkandung dalam rumus berat nominal SNI 2052. Selama satuannya ditulis jelas, kamu bisa menyusun ulang tabel berat besi sendiri, memeriksa tabel dari pemasok, dan menimbang batang yang mencurigakan. Konversi satuan seperti kg/m³ ke kN/m³ atau t/m³ bisa dicek di alat konversi satuan.

Lembar Hitung dan tabel terkait

Tabel standar

Tabel besi beton

Diameter, luas, dan berat nominal besi beton polos dan sirip per meter dan per batang.

Buka alat

Lembar Hitung

Kalkulator beton dan besi

Volume beton, kebutuhan semen, pasir, kerikil, dan berat besi dari ukuran elemen.

Buka alat

Tabel standar

Tabel profil baja

Dimensi dan berat profil WF, H, UNP, siku, CNP, dan hollow dari katalog produsen.

Buka alat

Lembar Hitung

Konversi satuan teknik

Ubah satuan tekanan, daya, panjang, luas, volume, torsi, debit, massa, gaya, energi, dan suhu.

Buka alat

Tabel standar

Daftar SNI per bidang

Nomor dan judul SNI yang sering dirujuk, dengan tautan ke layanan resmi BSN.

Buka alat

Pertanyaan umum

Berapa berat jenis baja dalam kg/m³?

7.850 kg/m³. Angka ini tercantum sebagai berat sendiri baja pada Tabel 1 PPPURG 1987 (SKBI-1.3.53.1987) dan dipakai lagi oleh Kementerian PU, misalnya di Tabel B.2 Permen PUPR No. 8 Tahun 2023 (baja profil dan baja tulangan beton 7,850 ton/m³). Secara fisika, angka ber-satuan kg/m³ ini adalah massa jenis.

1 m³ besi berapa kg?

Untuk baja (termasuk besi beton dan baja profil), 1 m³ beratnya 7.850 kg atau 7,85 ton. Untuk besi tuang (cor), PPPURG 1987 mencantumkan 7.250 kg/m³. Kebalikannya, 1 ton baja hanya bervolume sekitar 0,127 m³.

Berapa berat jenis baja WF?

Sama dengan baja lain, yaitu 7.850 kg/m³. Yang berbeda hanya luas penampangnya. Berat per meter profil WF = luas penampang (cm²) × 0,785. Contoh WF 150 × 75 × 5 × 7 dengan luas 17,85 cm² memberi 14,01 kg/m, cocok dengan 14 kg/m di katalog produsen.

Dari mana angka 0,006165 dalam rumus berat besi?

Dari 7.850 kg/m³ × π/4 × 10⁻⁶. Faktor π/4 × d² adalah luas lingkaran dalam mm², 10⁻⁶ mengubah mm² menjadi m², dan panjangnya 1 m. Hasilnya W = 0,006165 × d² kg/m dengan d dalam mm.

Kenapa berat besi beton yang ditimbang lebih ringan dari tabel?

Berat di tabel adalah berat nominal. SNI 2052:2017 mengizinkan penyimpangan berat per batang BjTS sebesar ±7% untuk diameter 6-8 mm, ±6% untuk 10-14 mm, dan ±5% untuk 16-29 mm. Batang yang menyimpang lebih jauh dari itu tidak memenuhi standar.

Berapa berat jenis baja dalam kN/m³?

Sekitar 77,0 kN/m³. Berat per volume sama dengan massa jenis dikali percepatan gravitasi standar: 7.850 kg/m³ × 9,806 65 m/s² = 76.982 N/m³ ≈ 77,0 kN/m³.

Apakah rumus 0,006165 × d² bisa dipakai untuk besi tuang atau aluminium?

Tidak begitu saja, karena rumus itu diturunkan dari massa jenis baja 7.850 kg/m³. Besi tuang (7.250 kg/m³) sekitar 7,6% lebih ringan dari baja, jadi rumus baja memberi berat yang sedikit berlebih. Untuk batang aluminium pejal (2.700 kg/m³), kamu bisa memakai 0,002120 × d² kg/m.

Bagaimana cara memeriksa apakah besi beton sesuai ukurannya?

Timbang satu batang, bagi beratnya dengan panjang untuk mendapat kg/m, lalu hitung diameter ekuivalen d = √(W / 0,006165). Contohnya batang 12 m seberat 6,60 kg memberi 0,550 kg/m dan diameter ekuivalen 9,45 mm. Beratnya menyimpang 10,8% dari S10, di luar toleransi ±6% SNI 2052:2017 untuk diameter 10 sampai 14 mm.

Sumber

  1. Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung (SKBI-1.3.53.1987, Lampiran No. 14 Kepmen PU No. 378/KPTS/1987), Tabel 1 Berat Sendiri Bahan Bangunan dan Komponen Gedung (salinan pindaian) Departemen Pekerjaan Umum (salinan tidak resmi) (darmadi18.wordpress.com), diakses
  2. Peraturan Menteri PUPR No. 8 Tahun 2023 tentang Pedoman Penyusunan Perkiraan Biaya Pekerjaan Konstruksi Bidang PUPR, Tabel B.2 Berat Isi Lepas Material dan AHSP U.4.6.a Penulangan Beton Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (JDIH PU) (jdih.pu.go.id), diakses
  3. Keputusan Menteri PUPR No. 2947/KPTS/M/2024 tentang Desain Prototipe Rumah Tinggal Sederhana (material property: berat jenis baja tulangan 7850 kg/m³) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (JDIH PU) (jdih.pu.go.id), diakses
  4. Lampiran II SE Dirjen Bina Konstruksi No. 47/SE/Dk/2026, Acuan dalam Penyusunan AHSP, Tabel A.5.a dan A.5.b Berat Baja Tulangan Beton (SNI 2052:2017) Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, Kementerian Pekerjaan Umum (binakonstruksi.pu.go.id), diakses
  5. Peraturan Menteri Perindustrian No. 55 Tahun 2024 tentang Pemberlakuan SNI Baja Tulangan Beton secara Wajib Kementerian Perindustrian (peraturan.go.id) (peraturan.go.id), diakses
  6. Purwanto, S.H. (2021). Evaluasi Karakteristik Baja Tulangan Beton di Malang Raya Berdasarkan Standar SNI 2052-2017. Jurnal APTEK 13(2): 59-68, Tabel 2 Toleransi berat per batang BjTS Jurnal APTEK (p-ISSN 2085-2630) (journal.upp.ac.id), diakses
  7. Nasautama, S.S. & Sitompul, M. (2022). Analisis Kebutuhan Tulangan dan Tulangan Sisa (Waste) Pekerjaan Struktur Kolom, Balok dan Pelat Lantai Proyek Pembangunan Pasar Baru Kabupaten Mandailing Natal. PORTAL: Jurnal Teknik Sipil 14(2) PORTAL: Jurnal Teknik Sipil (e-jurnal.pnl.ac.id), diakses
  8. SNI 2847:2019 Persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung, Tabel 20.6.1.3.1 (selimut beton) dan Tabel 25.3.2 (kait sengkang) Badan Standardisasi Nasional (salinan tidak resmi) (tekonsipil.sv.ugm.ac.id), diakses
  9. University Physics Volume 1, 14.1 Fluids, Density, and Pressure, Table 14.1 Densities of Some Common Substances OpenStax, Rice University (openstax.org), diakses
  10. KBBI Daring, entri berat jenis Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (kbbi.kemendikdasmen.go.id), diakses
  11. The International System of Units (SI Brochure), 9th edition, Appendix 1: deklarasi 3rd CGPM 1901 tentang berat dan gravitasi standar Bureau International des Poids et Mesures (BIPM) (bipm.org), diakses
  12. NIST Special Publication 811 (2008), Guide for the Use of the International System of Units, Appendix B catatan kaki 23 (gn = 9,806 65 m/s²) National Institute of Standards and Technology (nvlpubs.nist.gov), diakses
  13. Halaman produk IWF dan GYS Product Catalogue v13 (2026), tabel WF 150 × 75 × 5 × 7 PT Garuda Yamato Steel (garudayamatosteel.com), diakses
  14. SNI 1727:2020 Beban desain minimum dan kriteria terkait untuk bangunan gedung dan struktur lain (arsip halaman SISPK BSN) Badan Standardisasi Nasional (web.archive.org), diakses

Tim Redaksi Ruang Teknik

Tim redaksi

Tim Redaksi Ruang Teknik menulis dan memperbarui artikel, tabel standar, dan halaman rumus di situs ini. Setiap angka, rumus, dan tabel dicocokkan dengan sumber resmi yang dikutip di halaman yang sama, mengikuti Pedoman Redaksi.

Pemeriksaan sumber

Angka, rumus, dan tabel di halaman ini dicocokkan redaksi dengan sumber resmi yang dikutip, lengkap dengan edisinya.

Terakhir diperiksa 15 Okt 2026

Artikel terkait