Sipil • Rumus dan Contoh Hitungan
Mutu Beton K dan fc': Arti, Konversi, dan Contohnya
Mutu beton K diukur pada kubus (kg/cm²), fc' pada silinder (MPa). Pelajari rumus konversi K ke fc', tabel K-175 sampai K-350, dan contoh hitungan K-300.

Mutu beton adalah kuat tekan beton yang disyaratkan pada umur 28 hari. Sistem lama PBI 1971 menuliskannya sebagai K dalam kg/cm² dari benda uji kubus 15 cm, sedangkan SNI 2847:2019 memakai fc' dalam MPa dari benda uji silinder. Dengan faktor bentuk 0,83 dari PBI 1971, K-300 kira-kira setara fc' 24,4 MPa, sementara tabel padanan AHSP lama memasangkan K-300 dengan fc' 26,4 MPa.
Daftar isi
Mutu beton adalah kuat tekan yang harus dicapai beton pada umur 28 hari, dan di Indonesia angka itu ditulis dengan dua sistem. Sistem lama dari PBI 1971 memakai huruf K dengan satuan kg/cm², diukur pada benda uji kubus 15 cm. Sistem yang dipakai SNI 2847:2019 memakai fc' dalam MPa, diukur pada benda uji silinder 150 x 300 mm. Karena bentuk benda ujinya berbeda, angka K tidak bisa sekadar dibagi 10 untuk mendapatkan fc'.
Sebutan seperti K-225 atau K-300 masih tertulis di dokumen lama, misalnya judul item "beton mutu f'c = 26,4 MPa (K 300)" pada SNI 7394:2008, sementara SNI 2847:2019 dan AHSP Kementerian PU tahun 2023 hanya memakai fc' dalam MPa. Artikel ini menjembatani keduanya: arti tiap angka, rumus konversi beserta asumsinya, tabel K-175 sampai K-350, contoh hitungan K-300, dan kebutuhan semen, pasir, serta kerikil per m³ menurut AHSP Kementerian PU yang berlaku.
Arti mutu beton dan kuat tekan
Kuat tekan adalah tegangan tekan saat benda uji beton hancur, yaitu gaya tekan maksimum dibagi luas penampang yang menahannya:
Keterangan: = kuat tekan (MPa atau kg/cm²), = gaya tekan maksimum saat benda uji hancur (N atau kgf), = luas penampang benda uji yang ditekan (mm² atau cm²).
Sebagai gambaran, kubus 15 cm punya luas tekan 15 x 15 = 225 cm². Beton K-300 berarti kubus itu sanggup menahan 300 kg/cm² x 225 cm² = 67.500 kgf sebelum hancur.
Ada dua hal yang membuat "mutu" lebih dari sekadar angka hasil satu kali uji:
- Umur uji. PBI 1971 Pasal 4.1 ayat (2) dan SNI 2847:2019 Pasal 19.2.1.3 sama-sama menetapkan umur 28 hari bila tidak ditentukan lain. Beton yang diuji lebih muda belum mencapai kekuatan penuh. Tabel 4.1.4 PBI 1971 mencatat beton semen portland biasa pada umur 7 hari baru sekitar 0,65 kali kekuatan umur 28 hari.
- Sebaran hasil. Hasil uji beton selalu menyebar. Karena itu angka mutu tidak sama dengan rata-rata hasil uji, melainkan batas bawah yang dijamin secara statistik. Cara menetapkan batas bawah inilah yang berbeda antara sistem K dan sistem fc'.
Menurut SNI 2847:2019 Pasal 19.2.1.1, nilai fc' di dokumen konstruksi harus memenuhi tiga hal sekaligus: batas pada Tabel 19.2.1.1, persyaratan durabilitas pada Tabel 19.3.2.1, dan kebutuhan kekuatan struktur. Penjelasan pasal itu menyebut persyaratan durabilitas kadang menuntut fc' lebih tinggi daripada kebutuhan struktural. Jadi mutu beton dipilih perencana, bukan ditawar di lapangan.
Sistem K dan fc': dari PBI 1971 ke SNI 2847:2019

Mutu K menurut PBI 1971
Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 (PBI 1971 N.I.-2) mendefinisikan kuat tekan beton sebagai kuat tekan benda uji kubus bersisi 15 (± 0,06) cm pada umur 28 hari (Pasal 4.1 ayat 2). Angka di belakang huruf K adalah kuat tekan karakteristik dalam kg/cm², yaitu nilai yang peluang hasil uji di bawahnya dibatasi paling banyak 5% (Pasal 4.1 ayat 1). Pasal 4.5 ayat (2) merumuskannya:
Keterangan: = kuat tekan beton karakteristik (kg/cm²), = kuat tekan beton rata-rata dari seluruh benda uji (kg/cm²), = deviasi standar hasil uji (kg/cm²), 1,64 = konstanta statistik untuk peluang gagal 5%. PBI 1971 Pasal 4.5 ayat (1) meminta minimal 20 benda uji untuk menghitung .
Tabel 4.2.1 PBI 1971 membagi beton ke dalam tiga kelas. Kelas I (mutu B0) untuk pekerjaan non-struktural. Kelas II memuat mutu standar B1, K125, K175, dan K225. Kelas III untuk mutu di atas K225, dan menurut Pasal 4.2 ayat (2) pelaksanaannya disyaratkan memakai laboratorium beton dan pengawasan mutu secara kontinu. Kolom pada tabel yang sama, dihitung dengan = 46 kg/cm², menunjukkan K225 butuh rata-rata uji sekitar 300 kg/cm².
fc' menurut SNI 2847:2019
SNI 2847:2019 ditetapkan lewat Keputusan Kepala BSN Nomor 694/KEP/BSN/12/2019 sebagai revisi SNI 2847:2013. Standar ini memakai fc', yaitu kuat tekan beton yang disyaratkan, dalam MPa. Benda ujinya silinder: satu "hasil uji" adalah rata-rata dua silinder 150 x 300 mm atau tiga silinder 100 x 200 mm dari sampel yang sama pada umur 28 hari, atau pada umur uji yang ditetapkan untuk fc' (Pasal 26.12.1.1). Dalam teks SNI 2847:2019 tidak ada benda uji kubus maupun satuan kg/cm².

Batas mutu dan kriteria terimanya:
Geser tabel ke samping
| fc' minimum, beton umum (berat normal dan ringan), Tabel 19.2.1.1 | 17 MPa |
|---|---|
| fc' minimum, sistem rangka pemikul momen khusus dan dinding struktural khusus, Tabel 19.2.1.1 | 21 MPa |
| Rata-rata setiap tiga hasil uji berurutan, Pasal 26.12.3.1 | ≥ fc' |
| Hasil uji tunggal terendah bila fc' ≤ 35 MPa | fc' - 3,5 MPa |
| Hasil uji tunggal terendah bila fc' > 35 MPa | 0,90 fc' |
Sumber: lihat bagian Sumber artikel.
Perhatikan bahwa definisi statistik kedua sistem tidak identik. K memakai batas 5% dengan deviasi standar dari minimal 20 benda uji, sedangkan fc' dinilai dengan aturan rata-rata tiga uji dan batas bawah uji tunggal. Ini salah satu alasan konversi K ke fc' selalu berupa pendekatan.
Cara konversi K ke fc' beserta asumsinya
Konversi K ke fc' butuh dua langkah: mengubah satuan, lalu mengoreksi bentuk benda uji. Melewatkan salah satunya memberi angka yang keliru.
Langkah 1, ubah satuan. Menurut NIST Guide to the SI (Appendix B.9), 1 kgf/cm² = 9,80665 x 10⁴ Pa, atau 0,0980665 MPa. Hasilnya masih kuat tekan kubus.
Langkah 2, koreksi bentuk benda uji. Tabel 4.1.3 PBI 1971 memberi perbandingan kekuatan tekan terhadap kubus 15 cm: kubus 15 cm = 1,00, kubus 20 cm = 0,95, dan silinder 15 x 30 cm = 0,83.
Gabungan keduanya:
Keterangan: = kuat tekan silinder pendekatan (MPa), = angka mutu K atau kuat tekan karakteristik kubus 15 cm (kg/cm²), 0,0980665 = faktor satuan kg/cm² ke MPa, 0,83 = faktor bentuk silinder terhadap kubus menurut PBI 1971 Tabel 4.1.3.
Ada tiga asumsi yang perlu kamu sadari saat memakai rumus ini.
- Rasio kubus dan silinder tidak konstan. Dokumen Universitas Diponegoro yang mengutip Mindess dkk. (2003) mencatat rasio kuat tekan kubus terhadap silinder berkisar dari 1,04 untuk beton mutu tinggi sampai 1,3 untuk beton mutu rendah. Faktor 0,83 setara rasio sekitar 1,20, jadi angka tunggal ini lebih cocok untuk beton mutu sedang.
- Cara cepat "K dibagi 10" sedikit berlebihan. Ada cara cepat yang menghitung K-300 = 300 ÷ 10 x 0,83 = 24,9 MPa. Pembagian dengan 10 menganggap 1 kg/cm² = 0,1 MPa, padahal nilainya 0,0980665 MPa. Selisihnya sekitar 2%, ke arah yang tidak aman.
- Ada seri padanan lain yang angkanya lebih tinggi. SNI 7394:2008 tentang harga satuan pekerjaan beton menuliskan judul item seperti "beton mutu f'c = 26,4 MPa (K 300)". Padanan yang sama juga menjadi judul item AHSP Permen PUPR 28/PRT/M/2016 (K-100 sampai K-350) dan Permen PUPR 1/2022 bagian Cipta Karya (K-100 sampai K-300), dua peraturan yang kini sudah dicabut. SNI 7394:2008 menyebut dasar penyusunannya adalah penelitian Analisis Biaya Konstruksi Pusat Litbang Permukiman 1988 sampai 1991, tetapi tidak menjelaskan rumus padanannya. Seri ini konsisten naik 2,3 sampai 2,4 MPa setiap kenaikan 25 kg/cm², dan mulai K-175 ke atas angkanya selalu lebih tinggi daripada pendekatan 0,83.
Menurut redaksi, sikap yang paling aman adalah memakai konversi hanya untuk memahami dokumen lama atau omongan di lapangan. Untuk pesanan beton dan berita acara uji, tuliskan fc' dan buktikan dengan silinder.
Tabel mutu beton K-175 sampai K-350 dan pemakaiannya
Tabel berikut menaruh tiga angka berdampingan supaya kelihatan seberapa jauh selisihnya. Kolom kubus dan pendekatan 0,83 adalah hitungan redaksi dari rumus di atas. Kolom padanan AHSP lama dikutip dari SNI 7394:2008 butir 6.5 sampai 6.12.
Geser tabel ke samping
| K-175 | 17,2 | 14,2 | 14,5 | II (mutu standar) | di bawah 17 MPa |
|---|---|---|---|---|---|
| K-200 | 19,6 | 16,3 | 16,9 | tidak tercantum | di bawah 17 MPa |
| K-225 | 22,1 | 18,3 | 19,3 | II (mutu standar) | di atas 17 MPa, di bawah 21 MPa |
| K-250 | 24,5 | 20,3 | 21,7 | III | 21 MPa terpenuhi hanya menurut padanan AHSP |
| K-275 | 27,0 | 22,4 | 24,0 | III | di atas 21 MPa |
| K-300 | 29,4 | 24,4 | 26,4 | III | di atas 21 MPa |
| K-325 | 31,9 | 26,5 | 28,8 | III | di atas 21 MPa |
| K-350 | 34,3 | 28,5 | 31,2 | III | di atas 21 MPa |
Sumber: lihat bagian Sumber artikel.
Dari tabel ini ada tiga pelajaran praktis.
- K-175 dan K-200 berada di bawah fc' 17 MPa, batas minimum beton umum pada SNI 2847:2019, baik dengan pendekatan 0,83 maupun padanan AHSP lama. Mutu ini tidak memenuhi batas minimum beton struktural bangunan gedung dalam standar tersebut.
- K-225 memenuhi batas umum 17 MPa dengan kedua cara, tetapi belum mencapai 21 MPa yang disyaratkan untuk sistem rangka pemikul momen khusus dan dinding struktural khusus.
- K-250 adalah wilayah abu-abu. Menurut padanan AHSP lama ia setara 21,7 MPa dan lolos batas 21 MPa. Menurut pendekatan PBI 1971 ia hanya sekitar 20,3 MPa. Bila gambar kerja meminta fc' 21 MPa, memesan "K-250" berarti menyerahkan keputusan pada konversi yang tidak disepakati. Lebih jelas memesan fc' 21 MPa langsung.
Contoh hitungan konversi K-300 ke MPa
Contoh berikut menjawab pertanyaan "beton K-300 berapa MPa" langkah demi langkah.
Contoh hitungan
Konversi mutu beton K-300 ke fc' (pendekatan PBI 1971)
Diketahui: K = 300 kg/cm² (kubus 15 cm, umur 28 hari)
Ubah satuan: 300 kg/cm² x 0,0980665 MPa per kg/cm² = 29,42 MPa (masih kuat tekan kubus)
Koreksi bentuk benda uji: 29,42 MPa x 0,83 = 24,42 MPa
Pembanding: cara cepat 300 ÷ 10 x 0,83 = 24,90 MPa; padanan AHSP lama = 26,4 MPa
Cek batas SNI 2847:2019: 24,42 MPa ≥ 21 MPa ≥ 17 MPa
Hasil
K-300 ≈ fc' 24,4 MPa menurut pendekatan PBI 1971

Arah sebaliknya juga berguna, misalnya saat pemasok hanya mengenal sebutan K. Untuk fc' 25 MPa, nilai K setaranya adalah 25 ÷ 0,83 ÷ 0,0980665 ≈ 307 kg/cm², sedikit di atas K-300. Artinya, bila gambar meminta fc' 25 MPa, beton "K-300" menurut pendekatan PBI 1971 sedikit kurang, walaupun menurut padanan AHSP lama (26,4 MPa) terlihat cukup. Lagi-lagi, spesifikasi fc' yang tertulis di pesanan lebih aman daripada sebutan K.
Setelah beton dicor, yang menentukan lolos atau tidaknya adalah hasil uji silinder, bukan konversi.
Contoh hitungan
Batas terima hasil uji silinder untuk fc' 25 MPa
Diketahui: fc' = 25 MPa; fc' ≤ 35 MPa sehingga batas uji tunggal = fc' - 3,5 MPa
Contoh data: 24,0 MPa; 26,5 MPa; 25,5 MPa, rata-rata = (24,0 + 26,5 + 25,5) ÷ 3 = 25,33 MPa
Syarat 1: rata-rata setiap tiga hasil uji berurutan ≥ 25 MPa
Syarat 2: setiap hasil uji (rata-rata 2 silinder 150 x 300 mm) ≥ 25 - 3,5 = 21,5 MPa
Hasil
25,33 MPa ≥ 25 MPa dan tidak ada hasil < 21,5 MPa, jadi beton diterima menurut SNI 2847:2019 Pasal 26.12.3.1
Komposisi bahan per m³ menurut AHSP
AHSP (Analisis Harga Satuan Pekerjaan) yang berlaku saat ini adalah Lampiran Permen PUPR Nomor 8 Tahun 2023, ditetapkan 28 Agustus 2023. Pasal 25 peraturan itu mencabut Permen PUPR Nomor 1 Tahun 2022. Hal penting untuk pembaca yang terbiasa dengan K: item beton di AHSP 2023 hanya ditulis dalam fc', tanpa padanan K.
Koefisien berikut untuk beton slump (100 ± 25) mm dengan agregat maksimum 19 mm. Item fc' 10 sampai 21 MPa dari kelompok U.4.1 (manual), fc' 25 sampai 35 MPa dari kelompok U.4.2.b.2 (semi-mekanis, pembuatan sampai pengecoran).

Geser tabel ke samping
| 10 | U.4.1.a | 267 | 871 | 1.009 | 202 | 5,3 |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 15 | U.4.1.b | 306 | 832 | 1.009 | 202 | 6,1 |
| 17 | U.4.1.c | 322 | 817 | 1.009 | 202 | 6,4 |
| 20 | U.4.1.d | 348 | 790 | 1.009 | 202 | 7,0 |
| 21 | U.4.1.e | 368 | 770 | 1.009 | 202 | 7,4 |
| 25 | U.4.2.b.2.3 | 407 | 731 | 1.009 | 202 | 8,1 |
| 28 | U.4.2.b.2.4 | 437 | 701 | 1.009 | 202 | 8,7 |
| 30 | U.4.2.b.2.5 | 457 | 681 | 1.009 | 202 | 9,1 |
| 35 | U.4.2.b.2.7 | 509 | 629 | 1.009 | 202 | 10,2 |
Sumber: lihat bagian Sumber artikel.
Kolom sak adalah hitungan redaksi (semen kg ÷ 50). Pada seri ini kerikil dan air dibuat tetap, sedangkan semen naik dan pasir turun seiring naiknya fc'. Untuk mengubah pasir ke volume, catatan di bawah item U.4.1.a memberi bobot isi pasir 1.400 kg/m³ dan kerikil 1.350 kg/m³. Contoh hitungan redaksi, pasir untuk fc' 25 MPa: 731 ÷ 1.400 ≈ 0,52 m³, belum termasuk faktor pengembangan pasir 20% yang juga disebut pada catatan itu.
Bila kamu masih memegang RAB atau gambar lama berbasis K, berikut seri lama dari SNI 7394:2008 (beton slump 12 ± 2 cm, kerikil maksimum 30 mm). Seri ini tidak lagi dimuat AHSP yang berlaku.
Geser tabel ke samping
| fc' 14,5 MPa (K 175) | 326 | 760 | 1.029 | 215 | 0,66 |
|---|---|---|---|---|---|
| fc' 16,9 MPa (K 200) | 352 | 731 | 1.031 | 215 | 0,61 |
| fc' 19,3 MPa (K 225) | 371 | 698 | 1.047 | 215 | 0,58 |
| fc' 21,7 MPa (K 250) | 384 | 692 | 1.039 | 215 | 0,56 |
| fc' 24,0 MPa (K 275) | 406 | 684 | 1.026 | 215 | 0,53 |
| fc' 26,4 MPa (K 300) | 413 | 681 | 1.021 | 215 | 0,52 |
| fc' 28,8 MPa (K 325) | 439 | 670 | 1.006 | 215 | 0,49 |
| fc' 31,2 MPa (K 350) | 448 | 667 | 1.000 | 215 | 0,48 |
Sumber: lihat bagian Sumber artikel.
Pada salinan SNI 7394:2008 butir 6.10 (K 300), satuan pasir dan kerikil tercetak "m3", padahal angkanya 681 dan 1.021. Butir lain memakai kg, jadi itu salah cetak satuan, bukan volume.
Rumus pada catatan di atas: = kuat tekan rata-rata yang ditargetkan (MPa), = kuat tekan yang disyaratkan (MPa), = deviasi standar rencana (MPa), 1,64 = konstanta statistik untuk kegagalan maksimum 5% (SNI 03-2834-2000 butir 4.2.3.1).
Dari mutu beton ke hitungan proyek
Mutu beton jarang berdiri sendiri. Nilai fc' ikut dipakai saat merancang pondasi footplat, sementara kebutuhan tulangannya dihitung dari berat jenis baja dan berat besi per meter. Saluran pada sistem drainase yang dibuat dari beton pun perlu mutu yang tertulis jelas di gambar.
Untuk menghitung volume beton, kebutuhan semen per sak, pasir, kerikil, dan berat besi dari ukuran elemen yang kamu punya, gunakan Kalkulator Kebutuhan Beton dan Besi. Masukkan mutu dalam fc', karena AHSP yang berlaku hanya memakai fc'. Bila datamu masih dalam K, konversikan dulu dengan rumus di atas dan pilih nilai fc' yang tidak lebih rendah dari yang diminta perencana.
Lembar Hitung terkait
Lembar Hitung
Kalkulator beton dan besi
Volume beton, kebutuhan semen, pasir, kerikil, dan berat besi dari ukuran elemen.
Buka alatLembar Hitung
Konversi satuan teknik
Ubah satuan tekanan, daya, panjang, luas, volume, torsi, debit, massa, gaya, energi, dan suhu.
Buka alatLembar Hitung
Kalkulator RAB sederhana
Susun rencana anggaran dari daftar pekerjaan berkode AHSP yang berlaku, lalu unduh ke Excel atau PDF.
Buka alatPertanyaan umum
K-300 berapa MPa?
Secara satuan saja, 300 kg/cm² sama dengan 29,42 MPa, tetapi itu kuat tekan kubus. Untuk mendapatkan fc' silinder, kalikan dengan faktor bentuk 0,83 dari Tabel 4.1.3 PBI 1971 sehingga hasilnya sekitar 24,4 MPa. Tabel padanan AHSP lama (SNI 7394:2008, Permen PUPR 28/2016 dan 1/2022) memasangkan K-300 dengan fc' 26,4 MPa.
Mutu beton K-250 berapa fc'?
Dengan pendekatan PBI 1971 (dikali 0,0980665 lalu 0,83), K-250 setara fc' sekitar 20,3 MPa. Tabel padanan AHSP lama menuliskannya fc' 21,7 MPa. Perbedaan ini penting karena SNI 2847:2019 mensyaratkan fc' minimum 21 MPa untuk sistem rangka pemikul momen khusus dan dinding struktural khusus.
Mutu beton K-225 setara fc' berapa?
Sekitar 18,3 MPa dengan faktor 0,83, atau 19,3 MPa menurut tabel padanan AHSP lama. Keduanya di atas batas minimum umum 17 MPa pada Tabel 19.2.1.1 SNI 2847:2019, tetapi di bawah 21 MPa.
Kenapa tidak cukup membagi angka K dengan 10?
Membagi dengan 10 hanya mengubah satuan secara kasar (1 kg/cm² sebenarnya 0,0980665 MPa) dan belum mengoreksi bentuk benda uji. K diukur pada kubus 15 cm, sedangkan fc' diukur pada silinder, dan silinder memberi kuat tekan lebih rendah daripada kubus dari beton yang sama.
Apakah AHSP yang berlaku sekarang masih memakai mutu K?
Tidak. Permen PUPR Nomor 8 Tahun 2023, yang mencabut Permen PUPR Nomor 1 Tahun 2022, menuliskan item beton hanya dalam fc' (misalnya fc' 20, 25, dan 30 MPa) tanpa padanan K.
Berapa batas terima hasil uji silinder untuk beton fc' 25 MPa?
Menurut Pasal 26.12.3.1 SNI 2847:2019, rata-rata setiap tiga hasil uji berurutan harus paling sedikit 25 MPa, dan tidak boleh ada hasil uji yang lebih rendah dari 25 - 3,5 = 21,5 MPa. Satu hasil uji adalah rata-rata dua silinder 150 x 300 mm atau tiga silinder 100 x 200 mm.
Berapa kebutuhan semen untuk beton fc' 25 MPa per m³?
Menurut AHSP Permen PUPR 8/2023 item U.4.2.b.2.3, beton fc' 25 MPa membutuhkan 407 kg semen, 731 kg pasir beton, 1.009 kg kerikil, dan 202 liter air per m³. Semen 407 kg setara sekitar 8,1 sak 50 kg. Koefisien ini untuk perkiraan biaya, bukan rancangan campuran pelaksanaan.
Apakah hasil uji beton umur 7 hari sudah bisa menentukan mutu?
Belum. PBI 1971 dan SNI 2847:2019 sama-sama menetapkan umur uji 28 hari bila tidak ditentukan lain. Tabel 4.1.4 PBI 1971 mencatat beton semen portland biasa pada umur 7 hari baru sekitar 0,65 kali kekuatan umur 28 hari, jadi hasil 7 hari hanya gambaran awal.
Sumber
- SNI 2847:2019 Persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung dan penjelasan (salinan teks lengkap, Pasal 19.2.1 dan 26.12) Badan Standardisasi Nasional, salinan dihosting Sekolah Vokasi UGM (salinan tidak resmi) (tekonsipil.sv.ugm.ac.id), diakses
- Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 N.I.-2 (pindaian, Pasal 4.1, 4.2, 4.5) Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (salinan tidak resmi) (herbycalvinpascal.wordpress.com), diakses
- Permen PUPR Nomor 8 Tahun 2023, Lampiran B AHSP Bidang Umum U.4 Pekerjaan Beton JDIH Kementerian Pekerjaan Umum (jdih.pu.go.id), diakses
- Permen PUPR Nomor 1 Tahun 2022 (sudah dicabut) JDIH Kementerian Pekerjaan Umum (jdih.pu.go.id), diakses
- Permen PUPR Nomor 28/PRT/M/2016 tentang Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum (sudah dicabut) JDIH Kementerian Pekerjaan Umum (jdih.pu.go.id), diakses
- SNI 7394:2008 Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan beton untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan Badan Standardisasi Nasional, salinan Klinik Konstruksi Pemda DIY (klinikkonstruksi.jogjaprov.go.id), diakses
- SNI 03-2834-2000 Tata cara pembuatan rencana campuran beton normal Badan Standardisasi Nasional, salinan Repositori UNIKOM (salinan tidak resmi) (repository.unikom.ac.id), diakses
- SNI 7656:2012 Tata cara pemilihan campuran untuk beton normal, beton berat dan beton massa Badan Standardisasi Nasional, salinan OCW Universitas Pembangunan Jaya (salinan tidak resmi) (ocw.upj.ac.id), diakses
- NIST Guide to the SI, Appendix B.9: Factors for units listed by kind of quantity (tekanan) National Institute of Standards and Technology (nist.gov), diakses
- Bab I Pendahuluan, Tabel 1.2 Perbandingan kekuatan tekan beton pada berbagai benda uji Universitas Diponegoro (eprints) (eprints.undip.ac.id), diakses
Pemeriksaan sumber
Angka, rumus, dan tabel di halaman ini dicocokkan redaksi dengan sumber resmi yang dikutip, lengkap dengan edisinya.
Terakhir diperiksa 15 Okt 2026
Artikel terkait
Foto: Khaosaming / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0
Pondasi Footplat: Cara Menghitung Ukuran Telapak
Cara menghitung ukuran pondasi footplat dari beban kolom dan daya dukung tanah izin, lengkap dengan contoh B x L, tebal, dan selimut beton menurut SNI.
Foto: W.carter / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
Berat Jenis Baja dan Rumus Berat Besi per Meter
Berat jenis baja 7.850 kg/m³ dan asal angkanya, rumus berat besi per meter 0,006165 × d², perbandingan dengan tabel resmi, toleransi SNI, dan contoh balok.
Foto: SATELITBM / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
Drainase Adalah: Jenis Saluran dan Rumus Debit Rencana
Drainase adalah prasarana pengalir kelebihan air ke badan air penerima. Kenali jenis saluran, rumus debit rasional, Manning, dan contoh hitungannya.


