Elektro • Rumus dan Contoh Hitungan

Trafo: Cara Kerja dan Rumus Perbandingan Lilitan

Trafo menaikkan atau menurunkan tegangan AC lewat induksi. Pelajari rumus Vp/Vs = Np/Ns, arus nominal tiga fasa, rugi SPLN, dan contoh hitungan 100 kVA.

Oleh Tim Redaksi Ruang TeknikTerbit Diperbarui Diperiksa terhadap sumber

Trafo distribusi tiga fasa PLN terpasang di rangka antara dua tiang listrik, tersambung ke jaringan tegangan menengah
Trafo distribusi tiga fasa PLN pada gardu dua tiang di Kebumen, Jawa Tengah. Trafo seperti ini menurunkan tegangan jaringan 20 kV menjadi 400 V antarfasa untuk pelanggan.Foto: SATELITBM / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
Ringkasan jawaban

Trafo (transformator) adalah mesin listrik statis yang mengubah besar tegangan dan arus bolak-balik tanpa mengubah frekuensinya. Arus AC di belitan primer menimbulkan fluks magnet yang berubah-ubah di inti besi, lalu fluks itu menginduksi tegangan di belitan sekunder. Perbandingannya mengikuti Vp/Vs = Np/Ns = Is/Ip, dan arus nominal trafo tiga fasa dihitung dengan I = S / (akar 3 x V), misalnya 144,3 A di sisi 400 V untuk trafo distribusi 100 kVA.

Daftar isi

Trafo atau transformator adalah mesin listrik statis yang memindahkan energi listrik bolak-balik (AC) dari satu rangkaian ke rangkaian lain sambil menaikkan atau menurunkan tegangannya, tanpa mengubah frekuensi. Prinsip kerjanya induksi elektromagnetik: arus AC di belitan primer menimbulkan fluks magnet yang berubah-ubah di inti besi, dan fluks yang sama menginduksi tegangan di belitan sekunder.

Artikel ini ditulis untuk mahasiswa dan teknisi yang perlu menghitung, bukan sekadar menghafal definisi. Isinya bergerak dari prinsip fisika, bagian-bagian trafo listrik, rumus perbandingan lilitan, rugi-rugi dan efisiensi, sampai hitungan arus nominal trafo distribusi 100 kVA 20 kV/400 V dengan rujukan dokumen SPLN D3.002-1:2007. Trafo kecil untuk adaptor dan catu daya dibahas terpisah di artikel Trafo Step Down, jadi di sini fokusnya prinsip umum dan trafo daya. Topik kelistrikan lain, termasuk kabel instalasi, ada di cabang Elektro Ruang Teknik.

Catatan sumber: SPLN D3.002-1:2007, Spesifikasi Transformator Distribusi Bagian 1, terbitan PT PLN (Persero), disebut sebagai dokumen rujukan tanpa tautan unduhan. Salinan resmi yang dapat dibuka belum ditemukan saat pemeriksaan, sehingga artikel ini tidak menautkan salinan pihak ketiga. Penyebutan dokumen bukan verifikasi status berlakunya. Untuk penerapan, gunakan dokumen resmi PLN yang sesuai.

Prinsip induksi elektromagnetik pada trafo

Trafo bekerja karena hukum Faraday. Setiap belitan yang dilingkupi fluks magnet yang berubah terhadap waktu akan membangkitkan tegangan. Pada transformator ideal, seluruh fluks terkurung di inti, sehingga belitan primer dan sekunder "melihat" fluks yang sama:

vp(t)=−NpdΦdtvs(t)=−NsdΦdtv_p(t) = -N_p \frac{d\Phi}{dt} \qquad v_s(t) = -N_s \frac{d\Phi}{dt}

Keterangan: vpv_p dan vsv_s = tegangan sesaat belitan primer dan sekunder (V); NpN_p dan NsN_s = jumlah lilitan primer dan sekunder (lilitan); Φ\Phi = fluks magnet bersama di inti (Wb); tt = waktu (s).

Diagram prinsip trafo satu fasa: inti besi persegi, belitan primer di kaki kiri tersambung ke sumber AC, belitan sekunder di kaki kanan tersambung ke beban, fluks bersama melingkar di inti
Fluks bersama di inti menghubungkan dua belitan yang tidak bersentuhan secara listrik. Panah merah menandai tegangan dan arus. Kredit: Ruang Teknik / diagram buatan redaksi

Dari persamaan ini terlihat dua hal penting. Pertama, kedua belitan tidak tersambung secara listrik; energi berpindah lewat medan magnet. Kedua, yang dibutuhkan adalah perubahan fluks. Arus searah (DC) yang sudah stabil menghasilkan fluks tetap, sehingga dΦ/dt=0d\Phi/dt = 0 dan sekunder tidak mendapat tegangan. Itulah alasan trafo hanya bekerja pada listrik AC.

Untuk fluks sinusoidal Φ=Φmsin⁡(2πft)\Phi = \Phi_m \sin(2\pi f t), turunan persamaan Faraday memberi nilai efektif (rms) tegangan induksi:

E=2π2 f N Φm≈4,44 f N ΦmE = \frac{2\pi}{\sqrt{2}}\, f\, N\, \Phi_m \approx 4{,}44\, f\, N\, \Phi_m

Keterangan: EE = tegangan induksi efektif pada belitan (V); ff = frekuensi (Hz, di Indonesia 50 Hz); NN = jumlah lilitan belitan tersebut (lilitan); Φm\Phi_m = fluks puncak di inti (Wb).

Persamaan ini sering disebut persamaan GGL transformator. Maknanya praktis: pada tegangan dan frekuensi tertentu, fluks puncak berbanding terbalik dengan jumlah lilitan. Makin sedikit lilitan, makin besar fluks puncak yang harus ditampung inti, sehingga jumlah lilitan dan luas penampang inti dirancang bersama.

Bagian-bagian trafo listrik

Secara konstruksi, trafo listrik terdiri dari inti magnet, dua kelompok belitan, dan sistem isolasi serta pendingin. Pada trafo daya dan trafo distribusi, bagian ketiga ini sama pentingnya dengan dua yang pertama.

Inti besi

Inti adalah jalur fluks. SPLN D3.002-1:2007 (pasal 7.2) menyebut inti transformator distribusi dibentuk dari laminasi baja silikon jenis cold-rolled grain oriented (butir terarah) atau baja amorf, disusun bertumpuk (stacking) atau digulung (wound type). Inti dibuat berlapis tipis yang saling terisolasi karena inti pejal akan dialiri arus pusar (eddy current) besar yang mengubah energi menjadi panas.

Belitan primer dan sekunder

SPLN mendefinisikan belitan primer sebagai belitan yang menerima daya aktif dari sumber, dan belitan sekunder sebagai belitan yang menyalurkan daya aktif ke beban. Jadi istilah primer dan sekunder mengikuti arah aliran daya, bukan mana yang bertegangan tinggi. Pada transformator penaik di pembangkit, primernya justru sisi tegangan rendah. Bahan konduktor belitan menurut SPLN adalah tembaga (Cu) atau aluminium (Al).

Satu kaki trafo daya tiga fasa yang dipotong untuk pameran museum, memperlihatkan inti besi berlapis di tengah dikelilingi belitan bertingkat dengan sekat isolasi kayu dan karton tekan
Potongan satu kaki trafo daya 40 MVA, 110/10 kV, di Technisches Museum Wien. Inti dari tumpukan laminasi baja silikon ada di tengah, dikelilingi belitan tegangan rendah, lalu belitan tegangan tinggi di luar. Menurut keterangan berkas fotonya, satu trafo utuh berisi tiga kaki seperti ini dalam tangki penuh minyak isolasi. Foto: Tmw11w1 / Wikimedia Commons, Domain publik

Minyak, tangki, dan pendingin pada trafo daya

Trafo distribusi PLN memakai metode pendinginan ONAN: belitan direndam minyak yang bersirkulasi alami, dan panas dibuang ke udara yang juga bersirkulasi alami lewat dinding tangki dan sirip. Minyak sekaligus berfungsi sebagai isolasi. SPLN mensyaratkan minyak mineral yang tidak beracun, memenuhi IEC 60296, dengan tegangan tembus minimal 50 kV/2,5 mm, dan diisikan secara vakum.

Beberapa batas lain dalam SPLN yang sama:

  • Kelas suhu isolasi A (105 °C).
  • Kenaikan suhu minyak bagian atas maksimum 50 K, dan suhu rata-rata belitan maksimum 55 K.
  • Sistem preservasi minyak kedap udara (hermetik) jenis terisi penuh (fully filled), yaitu minyak mengisi seluruh ruang di dalam tangki. Untuk daya 100 sampai 1.000 kVA tangkinya bersirip pendingin; di atas 1.000 kVA boleh kedap udara atau konvensional.
  • Pengubah sadapan di belitan primer dengan langkah 2,5 %, tipe 5 langkah (±2 x 2,5 %) atau 7 langkah (+2 x 2,5 %, -4 x 2,5 %), untuk menyesuaikan tegangan keluaran dengan kondisi jaringan.

Rumus perbandingan lilitan trafo: Vp/Vs = Np/Ns = Is/Ip

Membagi dua persamaan Faraday di atas menghilangkan dΦ/dtd\Phi/dt dan menghasilkan rumus inti transformator. Pada kondisi ideal (tanpa rugi), daya masuk sama dengan daya keluar, sehingga arus berbanding terbalik dengan tegangan:

VpVs=NpNs=IsIp=a\begin{aligned}\frac{V_p}{V_s} &= \frac{N_p}{N_s} \\ &= \frac{I_s}{I_p} \\ &= a\end{aligned}

Keterangan: VpV_p dan VsV_s = tegangan efektif primer dan sekunder (V); NpN_p dan NsN_s = jumlah lilitan primer dan sekunder (lilitan); IpI_p dan IsI_s = arus efektif primer dan sekunder (A); aa = rasio transformasi (tanpa satuan).

Vp Ip=Vs IsV_p \, I_p = V_s \, I_s

Keterangan: VpIpV_p I_p = daya semu masuk (VA); VsIsV_s I_s = daya semu keluar (VA). Berlaku untuk trafo ideal.

Bila Ns>NpN_s > N_p, tegangan naik dan arus turun (trafo penaik atau step-up). Bila Ns<NpN_s < N_p, tegangan turun dan arus naik (trafo penurun atau step-down). Konsekuensi yang sering terlewat: sisi tegangan rendah selalu menjadi sisi berarus besar, sehingga penampang konduktor dan terminalnya jauh lebih tebal.

Contoh hitungan

Contoh 1: Jumlah lilitan dan arus trafo satu fasa ideal

Data: Vp = 220 V, Vs = 24 V, Np = 880 lilitan, arus beban Is = 5 A.

  1. Rasio transformasi: a = Vp / Vs = 220 V / 24 V = 9,17.

  2. Lilitan sekunder: Ns = Np x Vs / Vp = 880 x 24 / 220 = 96 lilitan.

  3. Arus primer: Ip = Is x Vs / Vp = 5 A x 24 / 220 = 0,545 A.

  4. Cek daya: Vp x Ip = 220 V x 0,545 A ≈ 120 VA (selisih 0,1 VA hanya karena pembulatan Ip); Vs x Is = 24 V x 5 A = 120 VA.

Hasil

Ns = 96 lilitan, Ip = 0,545 A, daya semu 120 VA (trafo ideal).

Pada transformator nyata, tegangan sekunder saat berbeban sedikit lebih rendah dari hitungan karena jatuh tegangan di belitan, dan arus primer sedikit lebih besar karena rugi-rugi. Untuk memilih rating trafo adaptor kecil, gunakan pembahasan di artikel Trafo Step Down.

Catatan untuk trafo tiga fasa

Pada transformator tiga fasa, rasio yang tertulis di pelat nama (misalnya 20 kV/400 V) adalah rasio tegangan antarfasa, bukan otomatis rasio lilitan per kaki inti. Rasio lilitan bergantung pada hubungan belitan. Pada hubungan Dyn5 (primer segitiga, sekunder bintang), belitan primer menerima 20.000 V penuh, sedangkan belitan sekunder per fasa hanya menghasilkan 400 / √3 = 230,9 V. Rasio lilitannya menjadi 20.000 / 230,9 = 86,6, bukan 50. Pada hubungan zig-zag (Yzn5), tegangan fasa sekunder adalah jumlah vektor dua bagian belitan yang terhubung seri dan dililit di kaki inti yang berbeda, sehingga perhitungan lilitannya juga tidak bisa langsung memakai angka 50.

Efisiensi dan rugi-rugi trafo

Transformator nyata kehilangan sebagian energi dalam dua bentuk utama. SPLN D3.002-1:2007 (pasal 4.18 dan 4.20) mendefinisikannya sebagai berikut:

  • Rugi tanpa beban (rugi besi): daya aktif yang diserap saat tegangan pengenal diberikan ke satu belitan sementara belitan lain terbuka. Sumbernya histeresis dan arus pusar di inti. Nilainya praktis tetap selama trafo bertegangan, berbeban atau tidak.
  • Rugi berbeban (rugi belitan): daya aktif yang diserap saat arus pengenal mengalir dengan sisi lain dihubung singkat, ditetapkan pada suhu acuan 75 °C. Sumber utamanya panas I2RI^2R di konduktor, jadi nilainya naik sebanding kuadrat arus beban.

Dengan dua angka itu, efisiensi pada sembarang beban bisa dihitung:

η=x Srcos⁡φx Srcos⁡φ+P0+x2Pk×100 %\eta = \frac{x \, S_r \cos\varphi}{x \, S_r \cos\varphi + P_0 + x^2 P_k} \times 100\,\%

Keterangan: η\eta = efisiensi (%); xx = faktor beban, yaitu beban dibagi daya pengenal (tanpa satuan, 1 = beban penuh); SrS_r = daya pengenal (VA); cos⁡φ\cos\varphi = faktor daya beban (tanpa satuan); P0P_0 = rugi tanpa beban (W); PkP_k = rugi berbeban pada arus pengenal (W).

Turunan rumus ini terhadap xx menunjukkan efisiensi maksimum tercapai saat rugi belitan sama dengan rugi besi, yaitu pada x=P0/Pkx = \sqrt{P_0 / P_k}. Keterangan: xx = faktor beban saat efisiensi puncak (tanpa satuan); P0P_0 dan PkP_k seperti di atas (W).

Grafik efisiensi trafo distribusi 100 kVA terhadap persentase beban, memuncak di beban 38,5 persen
Kurva dihitung redaksi dari rugi tanpa beban 210 W dan rugi berbeban 1.420 W (SPLN D3.002-1:2007, Tabel 3), faktor daya 1. Titik 50 % dan 100 % sama dengan Tabel B2 SPLN. Kredit: Ruang Teknik / diagram buatan redaksi

Grafik di atas membongkar anggapan umum bahwa transformator paling efisien saat dibebani penuh. Untuk nilai rugi SPLN, puncaknya justru di sekitar 38 sampai 40 % beban untuk rating 50 sampai 800 kVA, sekitar 42 % untuk 25 kVA, dan 33 sampai 36 % untuk rating 1.000 sampai 2.500 kVA. Namun jangan langsung menyimpulkan "pilih trafo sebesar mungkin". Rugi besi berjalan 24 jam sehari: trafo 100 kVA membuang 210 W x 8.760 jam = 1.839,6 kWh per tahun hanya untuk tetap bertegangan. Unit yang terlalu besar untuk bebannya membayar rugi besi yang lebih tinggi tanpa pernah memanfaatkan kapasitasnya.

Tabel berikut merangkum rugi-rugi yang dirujuk ke SPLN D3.002-1:2007 untuk beberapa rating trafo tiga fasa, ditambah arus nominal yang dihitung redaksi dengan rumus di bagian berikutnya. Perhatikan keterbatasan akses dokumen pada catatan sumber di awal artikel.

Tabel 1: Efisiensi dan rugi-rugi trafo
501,4472,212580098,18
1002,89144,32101.42098,40
1604,62230,93002.00098,58
2005,77288,73552.35098,67
2507,22360,84202.75098,75
40011,55577,45953.85098,90
63018,19909,38355.40099,02
1.00028,871.443,41.1008.55099,04

Sumber: lihat bagian Sumber artikel.

SPLN juga memberi batas toleransi: rugi tanpa beban hasil uji boleh melebihi nilai tabel paling banyak 10 %, dan rugi total paling banyak 5 %. Tegangan impedans trafo sampai 630 kVA ditetapkan 4 % dengan toleransi ±10 %.

Arus nominal trafo tiga fasa: I = S / (√3 x V)

Daya pengenal dinyatakan sebagai daya semu dalam kVA. SPLN (pasal 4.12) mendefinisikannya sebagai nilai konvensional daya semu yang menjadi dasar desain, jaminan pabrikan, pengujian, dan penentuan arus pengenal. Sejalan dengan itu, pasal 4.13 menyebut arus pengenal diperoleh dari daya pengenal dibagi tegangan pengenal dan faktor fase, yaitu √3 untuk trafo tiga fasa dan 1 untuk trafo satu fasa:

In=Sr3×VLLI_n = \frac{S_r}{\sqrt{3} \times V_{LL}}

Keterangan: InI_n = arus nominal (pengenal) per fasa di terminal (A); SrS_r = daya pengenal trafo (VA); VLLV_{LL} = tegangan pengenal antarfasa di sisi yang dihitung (V); 3≈1,732\sqrt{3} \approx 1{,}732 = faktor fase sistem tiga fasa.

Untuk trafo satu fasa rumusnya cukup In=Sr/VI_n = S_r / V, dengan InI_n = arus nominal (A), SrS_r = daya pengenal (VA), dan VV = tegangan pengenal belitan (V).

Mengapa kVA, bukan kW? Panas di belitan ditentukan oleh besar arus, tidak peduli apakah arus itu membawa daya aktif atau reaktif. Trafo 100 kVA yang dibebani penuh 100 kVA dengan faktor daya 0,8 hanya menyalurkan 80 kW, tetapi arusnya tetap 144,3 A di sisi 400 V, sama dengan beban penuh berfaktor daya 1, sehingga rugi belitannya juga sama.

Contoh hitungan trafo distribusi 100 kVA 20 kV/400 V

Contoh ini memakai trafo tiga fasa 100 kVA, 20 kV/400 V, dengan rugi tanpa beban 210 W dan rugi berbeban 1.420 W sesuai SPLN D3.002-1:2007 Tabel 3. Untuk daya ini, SPLN menetapkan kelompok vektor Yzn5 pada sistem 20 kV tiga kawat.

Contoh hitungan

Contoh 2: Arus nominal dan efisiensi beban penuh trafo 100 kVA

Data: Sr = 100 kVA = 100.000 VA, V primer = 20.000 V, V sekunder = 400 V, P0 = 210 W, Pk = 1.420 W.

  1. Arus nominal primer: Ip = 100.000 VA / (1,732 x 20.000 V) = 2,89 A.

  2. Arus nominal sekunder: Is = 100.000 VA / (1,732 x 400 V) = 144,3 A.

  3. Cek rasio: 20.000 V / 400 V = 50 dan 144,3 A / 2,89 A ≈ 50 (49,9 karena pembulatan; konsisten).

  4. Rugi total beban penuh: 210 W + 1.420 W = 1.630 W.

  5. Efisiensi beban penuh pada cos φ = 1: 100.000 W / (100.000 W + 1.630 W) x 100 % = 98,40 %.

Hasil

arus nominal 2,89 A (sisi 20 kV) dan 144,3 A (sisi 400 V); efisiensi beban penuh 98,40 %, sama dengan Tabel B2 SPLN.

Arus 144,3 A per fasa di sisi 400 V itulah yang menjadi dasar pemilihan pemutus, rel, dan kabel keluaran trafo. Kabel instalasi bangunan seperti kabel NYM punya batas kuat hantar arus sendiri, jadi jangan menyamakan kemampuan trafo dengan kemampuan kabel di hilirnya.

Contoh hitungan

Contoh 3: Efisiensi trafo 100 kVA pada beban 75 % dan faktor daya 0,85

Data: x = 0,75, cos φ = 0,85, Sr = 100 kVA, P0 = 210 W, Pk = 1.420 W.

  1. Daya keluaran aktif: Pout = 0,75 x 100.000 VA x 0,85 = 63.750 W.

  2. Rugi belitan pada 75 % beban: Pcu = 0,75² x 1.420 W = 798,75 W.

  3. Rugi total: 210 W + 798,75 W = 1.008,75 W.

  4. Efisiensi: 63.750 W / (63.750 W + 1.008,75 W) x 100 % = 98,44 %.

  5. Rugi besi setahun (trafo selalu bertegangan): 210 W x 8.760 jam = 1.839,6 kWh.

Hasil

efisiensi 98,44 % pada beban 75 % dan cos φ 0,85; rugi besi tahunan 1.839,6 kWh.

Satu angka lagi dari SPLN Tabel B2 berguna untuk cek lapangan: regulasi tegangan trafo 100 kVA pada beban penuh adalah 3,40 % untuk faktor daya 0,8 dan 1,49 % untuk faktor daya 1. Artinya, tegangan sekunder yang 400 V saat tanpa beban wajar turun beberapa volt saat trafo dibebani penuh.

Jenis trafo menurut fungsi

Transformator dikelompokkan menurut tugasnya di sistem tenaga. SNI IEC 60076-1:2013 (adopsi identik IEC 60076-1:2011) berlaku untuk trafo daya satu fasa dan tiga fasa termasuk autotrafo, sementara beberapa kategori trafo kecil dan khusus, misalnya trafo instrumen dan trafo las, dikecualikan dari lingkupnya.

Tabel 2: Jenis trafo menurut fungsi
Trafo penaik (step-up)Menaikkan tegangan generator agar daya bisa disalurkan jauh dengan arus kecilPembangkit listrikSNI IEC 60076-1:2013; trafo penaik dikecualikan dari lingkup PUIL 2020 Bagian 5-521
Trafo daya gardu indukMenurunkan tegangan transmisi ke jaringan tegangan menengah (JTM PLN 20 kV)Gardu indukSNI IEC 60076-1:2013
Trafo distribusiMenurunkan 20 kV menjadi 400 V (tiga fasa) atau 231 V (satu fasa) untuk pelangganGardu tiang, gardu bangunan, gardu pelangganSPLN D3.002-1:2007, sampai 2.500 kVA; PUIL 5-521 untuk trafo nonpublik 50 sampai 3.150 kVA
AutotrafoMengubah tegangan dengan belitan primer dan sekunder yang memiliki bagian bersamaPenghubung dua jaringan tegangan tinggiTermasuk lingkup IEC 60076-1
Trafo instrumen (CT dan PT)Meneruskan sinyal arus atau tegangan yang sebanding dengan sisi primer ke alat ukur, meter, dan relai proteksiKubikel 20 kV, panel pengukuranDikecualikan dari lingkup IEC 60076-1
Trafo lasMemasok arus dan tegangan dengan karakteristik yang sesuai untuk pengelasan busurBengkel dan proyek konstruksiDikecualikan dari lingkup IEC 60076-1
Trafo kecil dan adaptorMenurunkan tegangan listrik rumah (sekitar 230 V) ke tegangan rendah untuk peralatan elektronikCatu daya, adaptorTrafo satu fasa di bawah 1 kVA dikecualikan dari IEC 60076-1; dibahas di artikel Trafo Step Down

Sumber: lihat bagian Sumber artikel.

Dari tabel ini terlihat bahwa kata "trafo" di percakapan sehari-hari bisa berarti benda yang daya pengenalnya sangat berbeda, dari adaptor di bawah 1 kVA sampai trafo distribusi PLN 2.500 kVA, belum termasuk trafo daya gardu induk. Rumus perbandingan lilitannya sama, tetapi standar, rugi-rugi yang dianggap wajar, dan risiko keselamatannya sangat berbeda.

Trafo distribusi satu fasa PLN berbentuk tabung kecil yang dipasang di tiang beton, tersambung ke jaringan tegangan menengah dan jaringan tegangan rendah
Trafo distribusi satu fasa PLN di tiang tunggal di Kebumen, Jawa Tengah. Bandingkan ukurannya dengan trafo tiga fasa di foto pembuka. SPLN D3.002-1:2007 mengatur trafo satu fasa 20 kV-231 V dan 20/√3 kV-231 V di samping trafo tiga fasa. Foto: SATELITBM / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Bekerja dengan aman di sekitar trafo

Trafo distribusi adalah titik pertemuan tegangan menengah 20 kV dan tegangan rendah 400 V. Pekerjaan K3 listrik di tempat kerja di Indonesia diatur Permenaker No. 12 Tahun 2015 beserta perubahannya, dan pemasangan trafo pelanggan mengikuti PUIL 2020 Bagian 5-521. Bagi mahasiswa dan teknisi, aturan praktisnya sederhana: hitungan di artikel ini untuk merancang dan memeriksa data, bukan untuk membuka gardu sendiri. Pengukuran langsung pada trafo hanya dilakukan petugas berwenang setelah prosedur bebas tegangan dan pembumian, dengan APD yang sesuai untuk pekerjaan listrik.

Lembar Hitung dan tabel terkait

Lembar Hitung

Kalkulator kabel dan daya listrik

Ukuran kabel dari daya beban, dengan batas KHA dan susut tegangan.

Buka alat

Lembar Hitung

Konversi satuan teknik

Ubah satuan tekanan, daya, panjang, luas, volume, torsi, debit, massa, gaya, energi, dan suhu.

Buka alat

Tabel standar

Daftar SNI per bidang

Nomor dan judul SNI yang sering dirujuk, dengan tautan ke layanan resmi BSN.

Buka alat

Pertanyaan umum

Apa bedanya trafo dan transformator?

Tidak ada bedanya. Trafo adalah sebutan singkat untuk transformator. Dokumen resmi seperti SPLN D3.002-1:2007 dan SNI IEC 60076-1:2013 memakai istilah transformator, sedangkan di lapangan orang lebih sering menyebut trafo.

Kenapa trafo tidak bisa dipakai untuk listrik DC?

Tegangan induksi pada belitan sebanding dengan laju perubahan fluks magnet. Arus DC yang sudah stabil menghasilkan fluks tetap, sehingga perubahan fluksnya nol dan belitan sekunder tidak mendapat tegangan. Belitan primer hanya menjadi kumparan berhambatan kecil yang bisa kelebihan arus dan panas.

Berapa arus nominal trafo 100 kVA 20 kV/400 V?

Dengan rumus I = S / (akar 3 x V), arus nominal sisi 20 kV sekitar 2,89 A dan sisi 400 V sekitar 144,3 A. Angka ini arus pengenal pada beban penuh, bukan arus yang selalu mengalir.

Kenapa daya trafo ditulis dalam kVA, bukan kW?

Panas di belitan ditentukan oleh besar arus, apa pun faktor daya bebannya. Karena itu standar mendefinisikan daya pengenal sebagai daya semu (kVA). Daya aktif yang bisa dipasok bergantung pada faktor daya beban, misalnya 85 kW untuk trafo 100 kVA pada faktor daya 0,85.

Berapa efisiensi trafo distribusi?

Untuk trafo distribusi tiga fasa menurut SPLN D3.002-1:2007, efisiensi pada beban penuh dan faktor daya 1 berkisar 98,04 persen (25 kVA) sampai 99,07 persen (2.500 kVA). Trafo 100 kVA tercatat 98,40 persen pada beban penuh dan 98,88 persen pada beban 50 persen.

Apa arti kode Yzn5 dan Dyn5 di pelat nama trafo?

Kode itu kelompok vektor: huruf besar untuk hubungan belitan tegangan tinggi (Y bintang, D segitiga), huruf kecil untuk tegangan rendah (y bintang, d segitiga, z zig-zag), n berarti netral dikeluarkan, dan angka 5 adalah notasi jam yang berarti tegangan sisi rendah tertinggal 150 derajat (5 x 30 derajat) dari sisi tinggi. SPLN D3.002-1:2007 memakai Yzn5 untuk trafo sampai 160 kVA dan Dyn5 di atas 160 kVA pada sistem 20 kV tiga kawat, serta YNyn0 pada sistem 20 kV empat kawat.

Apa beda trafo step-up dan step-down?

Trafo step-up punya lilitan sekunder lebih banyak dari primer (Ns > Np), sehingga tegangan naik dan arus turun. Trafo step-down sebaliknya (Ns < Np), tegangan turun dan arus naik. Karena itu sisi tegangan rendah selalu menjadi sisi berarus besar dengan konduktor dan terminal yang lebih tebal.

Apakah trafo paling efisien saat dibebani penuh?

Tidak. Efisiensi maksimum tercapai saat rugi belitan sama dengan rugi besi, yaitu pada faktor beban x = akar (P0/Pk). Untuk trafo 100 kVA dengan rugi SPLN 210 W dan 1.420 W, puncaknya di sekitar 38,5 persen beban. Meski begitu, jangan memilih trafo yang terlalu besar, karena rugi besinya tetap terbuang 24 jam sehari.

Sumber

  1. SNI IEC 60076-1:2013 Transformator daya - Bagian 1: Umum Badan Standardisasi Nasional (pesta.bsn.go.id), diakses
  2. SNI 0225-5-521:2020 PUIL 2020 Bagian 5-521: Transformator distribusi (arsip halaman SISPK) Badan Standardisasi Nasional (web.archive.org), diakses
  3. IEC 60076-1:2011 Power transformers - Part 1: General International Electrotechnical Commission (webstore.iec.ch), diakses
  4. University Physics Volume 2, Bab 15.6 Transformers OpenStax, Rice University (openstax.org), diakses
  5. University Physics Volume 2, Bab 13.5 Eddy Currents OpenStax, Rice University (openstax.org), diakses
  6. IEC 60050 International Electrotechnical Vocabulary, IEV 321-01-01 instrument transformer International Electrotechnical Commission (Electropedia) (electropedia.org), diakses
  7. IEC 60050 International Electrotechnical Vocabulary, IEV 851-13-01 arc welding power source International Electrotechnical Commission (Electropedia) (electropedia.org), diakses
  8. Generator Safety (Transfer Switches) Electrical Safety Foundation International (ESFI) (esfi.org), diakses
  9. Sumanto, Teori Transformator, Ed. 1 cet. 1, Andi Offset, Yogyakarta, 1991 (ISBN 979-533-047-0), katalog Grhatama Pustaka DIY Andi Offset (balaiyanpus.jogjaprov.go.id), diakses
  10. Fransisco Danang Wijaya dan Wahyudi Budi Pramono, Transformator Daya Listrik: Desain, Instalasi, Proteksi, Aplikasi, Pemeliharaan, dan Troubleshooting, cet. 1, Januari 2025 (ISBN 978-623-359-531-5) UGM Press (ugmpress.ugm.ac.id), diakses
  11. Permenaker No. 12 Tahun 2015 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Listrik di Tempat Kerja JDIH BPK RI (peraturan.bpk.go.id), diakses

Tim Redaksi Ruang Teknik

Tim redaksi

Tim Redaksi Ruang Teknik menulis dan memperbarui artikel, tabel standar, dan halaman rumus di situs ini. Setiap angka, rumus, dan tabel dicocokkan dengan sumber resmi yang dikutip di halaman yang sama, mengikuti Pedoman Redaksi.

Pemeriksaan sumber

Angka, rumus, dan tabel di halaman ini dicocokkan redaksi dengan sumber resmi yang dikutip, lengkap dengan edisinya.

Terakhir diperiksa 15 Okt 2026

Artikel terkait